TAKROR: Mengulang Pelajaran & Membangun Kepercayaan Diri

TAKROR: Mengulang Pelajaran & Membangun Kepercayaan Diri



Public speaking atau seni berbicara di depan umum bukan sekadar kemampuan berbicara lantang di hadapan orang banyak. Ia adalah keterampilan penting yang menumbuhkan kepercayaan diri, melatih berpikir kritis, serta memperkuat kemampuan menyampaikan gagasan dengan efektif dan memiliki daya pengaruh. Bagi santri, kemampuan ini bukan hanya berguna untuk presentasi di kelas kelas diniyah pesantren, atau ketika muhadhoroh atau khitobiyah, tetapi juga menjadi bekal berharga dalam dunia perjuangan, organisasi, hingga dunia sosial dan kerjanya kelak.

Guru pesantren sebagai kepanjangan tangan dari para pengasuh memiliki peran vital dalam membimbing para santri mengembangkan keterampilan public speakingnya. Dengan menjadi fasilitator yang suportif dan kreatif, guru pesantren seharusnya bisa mengubah rasa takut menjadi keberanian, keraguan menjadi kepercayaan, dan potensi menjadi prestasi. Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan guru sebagai mentor public speaking antara lain:

1. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Positif

Para santri harus merasa bahwa mereka bisa berlatih tanpa takut dihakimi. Guru perlu membangun suasana belajar dipesantren atau suasana kelas yang mendorong keberanian mencoba dan menghargai setiap proses belajar, bukan hanya hasil akhir.

2. Berikan Teladan yang Baik

Guru yang menyampaikan materi dengan intonasi, aksentuasi, dan artikulasi jelas, nada suara yang meyakinkan, serta kontak mata yang baik adalah contoh konkret bagi para santri. Public speaking bukan hanya diajarkan, tapi juga dicontohkan.

3. Latihan Terstruktur dan Bertahap

Mulai dari latihan sederhana seperti memperkenalkan diri, membaca puisi, hingga menyampaikan opini atau pidato pendek. Naikkan tingkat kesulitan seiring meningkatnya kepercayaan diri para santri.

4. Beri Umpan Balik yang Konstruktif

Fokuskan pada aspek yang bisa dikembangkan, seperti intonasi, penguasaan materi, atau penggunaan bahasa tubuh. Umpan balik yang membangun akan mempercepat kemajuan santri. 

Dan keempat hal itu bisa dilatih setiap hari pada forum Takror (mengulang pelajaran) bersama, bergantian presentasi dengan menerima tanya jawab perihal materi yang dipresentasikan (ditunggui oleh guru²), melalui forum diskusi dan musyawarah bersama antar kelas, antar pesantren, dan bahtsul masail.

Hanya saja, seringkali takror ini terabaikan, musyawarah dan diskusi pun ter-acuhkan, sehingga para santri selain tidak mampu mengeksplore diri, tidak berkembang pula secara intelektualitas dan publik speaking. 


Terimakasih


Mj

1 Mei 2025

Komentar

Postingan Populer