Menghargai Guru dan Ilmu: Kunci Keberkahan dalam Menuntut Ilmu (Sebuah Essay)
Dalam tradisi Islam, mencari ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah. Namun, esensi mencari ilmu bukan hanya terletak pada pengetahuan yang diperoleh, melainkan juga pada adab dan akhlak dalam prosesnya. Fenomena yang terjadi di lingkungan pendidikan pesantren saat ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam memahami dan menghormati ilmu serta para pengajarnya.
Dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum sebenarnya bertentangan dengan spirit Islam itu sendiri. Al-Quran tidak pernah membedakan antara ayat-ayat qauliyah (tersurat dalam kitab suci) dan ayat-ayat kauniyah (tersirat dalam alam semesta). Keduanya adalah manifestasi dari kebesaran Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin bahkan menegaskan bahwa setiap ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia adalah bagian dari ilmu yang mulia.
Sains dan teknologi modern, yang seringkali dipandang sebelah mata di lingkungan pesantren, sejatinya adalah tools yang dapat mengantar manusia pada pemahaman yang lebih dalam tentang kebesaran Allah SWT. Ketika seorang ilmuwan mengamati kompleksitas sel atau keseimbangan ekosistem, bukankah ini menjadi bukti nyata akan kesempurnaan ciptaan-Nya? Penguasaan ilmu pengetahuan justru dapat memperkuat keimanan dan membantu manusia menjalankan amanah sebagai khalifah di muka bumi dengan lebih baik.
Persoalan kedua yang tidak kalah penting adalah tentang penghormatan kepada guru. Dalam kitab Ta'limul Muta'allim, Syekh Az-Zarnuji menekankan bahwa menghormati guru adalah bagian integral dari menghormati ilmu itu sendiri. Beliau mengutip sebuah syair yang berbunyi: "Sesungguhnya guru dan dokter keduanya tidak akan memberikan nasehat jika tidak dihormati." Artinya, keberkahan ilmu sangat terkait dengan bagaimana kita menghormati para pengajarnya.
Fenomena membeda-bedakan penghormatan kepada guru berdasarkan status sosial atau hubungan kekerabatan dengan pengasuh pesantren adalah bentuk kesalahpahaman dalam memahami konsep hormat dalam Islam. Setiap guru yang telah memberikan ilmu, bahkan jika hanya satu huruf, berhak mendapatkan penghormatan yang setara. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa tinta para ulama (dalam konteks ini termasuk guru) lebih berharga dari darah para syuhada.
Solusi untuk permasalahan ini terletak pada pemahaman komprehensif tentang konsep ilmu dalam Islam. Pertama, perlu ada kesadaran bahwa semua ilmu yang bermanfaat adalah mulia, baik itu ilmu agama maupun sains. Kedua, penghormatan kepada guru harus didasarkan pada kontribusi mereka dalam mentransfer ilmu, bukan pada status sosial atau hubungan kekerabatan.
Para santri perlu memahami bahwa keberkahan ilmu tidak hanya terletak pada apa yang dipelajari, tetapi juga bagaimana cara mempelajarinya. Menghormati guru dan menghargai setiap cabang ilmu adalah kunci untuk mendapatkan keberkahan dalam menuntut ilmu. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan: "Man 'allama harfan, sirtu lahu 'abdan" - Siapa yang mengajariku satu huruf, aku menjadi budaknya.
Tampaknya, sudah saatnya kita mengembalikan marwah pendidikan pesantren sebagai lembaga yang mencetak generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga kompeten dalam ilmu pengetahuan modern, serta memiliki adab yang tinggi dalam menuntut ilmu. Karena sesungguhnya, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa dalam ilmunya, tetapi juga dari seberapa tinggi adabnya dalam menghormati ilmu dan para pengajarnya.
Kendal, 1 Februari 2025
Emje_C

Komentar