Sastra: Halus, tapi mampu meninggalkan gores



Di tengah riuh rendah percakapan digital yang kerap dibumbui nada tinggi dan serangan personal, sastra tetap hadir sebagai penyeimbang komunikasi. Dalam dunia yang semakin gemar menyampaikan kritikan secara frontal dan terbuka, karya-karya sastra menawarkan pendekatan yang lebih subtil, reflektif, dan manusiawi. Ia tidak bersifat menyerang, akan tetapi memberikan sentilan; tidak menghardik, melainkan menggugah kesadaran.

Sastra bekerja melalui jalur tidak langsung. Ia menyampaikan pesan melalui simbol, metafora, ironi, dan alusi. Pilihan ini bukan sekadar tentang estetika, melainkan strategi komunikatif yang efektif dalam konteks sosial tertentu. Dalam kajian linguistik, pendekatan ini dikenal sebagai tindak tutur tidak langsung (indirect speech act), suatu bentuk komunikasi yang menjaga kehormatan lawan bicara. Brown and Levinson (1987) menyebutnya sebagai strategi menyelamatkan muka — upaya untuk menghindari konfrontasi langsung yang dapat merendahkan pihak lain.

Dalam masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai sopan santun, rasa malu, dan harmoni sosial, strategi ini menjadi sangat relevan untuk diaplikasikan. Para sastrawan memahami bahwa bahasa yang halus kerap lebih memberikan dampak dibanding ujaran kasar. Mereka tidak membentak kekeliruan, akan tetapi menampilkannya melalui narasi, peristiwa, atau tokoh yang berlapis makna.

Chairil Anwar, penyair modern Indonesia yang kerap disebut-sebut sebagai pelopor individualisme sastra Indonesia, memberikan contoh yang gamblang. Dalam puisi legendarisnya, Aku, ia menyebut dirinya sebagai “binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang.” Ini bukan sekadar tentang pengakuan personal. Di balik penggambarannya itu, tersimpan pemberontakan terhadap norma sosial dan kekuasaan yang menindas. Tegurannya begitu menusuk, namun tidak ditujukan secara langsung. Justru karena tidak menyasar pada individu tertentu, puisinya menjadi universal dan relevan melintas antar zaman.

WS Rendra mengambil pendekatan serupa dalam “Sajak Pertemuan Mahasiswa”. Ia tidak pernah menyebut nama pejabat atau institusi, tetapi kritiknya terhadap represi politik Orde Baru begitu terasa. Puisinya menjadi semacam dokumen perlawanan, bukan karena frontalitasnya, melainkan karena kedalaman refleksi yang ditawarkan. Rendra menciptakan ruang kontemplasi, bukan konflik.

Pramoedya Ananta Toer juga menunjukkan bagaimana kritik bisa disampaikan tanpa kekerasan verbal. Melalui tokoh Minke dalam Bumi Manusia, ia mengurai ketidakadilan kolonial bukan dengan slogan-slogan perlawanan, melainkan melalui pergulatan batin, konflik pribadi, dan pencarian intelektual. Narasi menjadi alat perubahan. Pembaca tidak merasa digurui, tetapi diajak mengalami, memahami, dan akhirnya —secara sadar atau tidak— berdiri dalam posisi kritis terhadap ketimpangan yang terjadi.

Pendekatan para sastrawan ini bukan tanpa presedensi global. Dalam sejarah sastra dunia, karya-karya besar lebih sering menggunakan pendekatan tidak langsung dalam menyampaikan kritik sosial dan politik. Dari Shakespeare hingga Dostoyevsky, dari Tagore hingga García Márquez, mereka menempatkan kritik dalam jalinan narasi, simbol, dan ironi. Mereka bekerja seperti air yang mengikis batu—tidak meledakkan , tetapi sanggup merubahnya.

Hanya saja, Ironi kemiskinan literasi di zaman ini adalah bahwa cara-cara subtil tersebut semakin kehilangan tempat. Di era literasi digital yang didorong oleh kecepatan dan visibilitas, kritik kerap kali tampil dalam bentuk cemoohan, cacian, ujaran kebencian, unggahan viral, atau komentar komentar sarkastik. Media sosial, dengan algoritma yang penawarannya mengutamakan keterlibatan emosional, mendorong gaya komunikasi yang keras dan binar. Dalam atmosfer ini, bahasa sastra yang penuh nuansa menjadi tampak lambat dan tidak efektif.

Padahal, jikapun tujuannya adalah menyentuh kesadaran publik secara lebih dalam dan tahan lama, gaya para sastrawan justru sangat relevan untuk diaplikasikan. Kritik yang lembut, jujur, reflektif, namun tajam, memberikan ruang bagi para pembacanya untuk merenung dan berubah tanpa merasa diserang. Ia menyentuh hati sebelum kemudian memberikan pengaruh pada pikiran.

Sastrawan bukanlah malaikat yang steril dari luka dan cela. Justru karena mereka manusia biasa, penuh kontradiksi dan kegelisahan, mereka mampu menjadi mediator teguran yang otentik. Mereka tidak menempatkan diri sebagai hakim, melainkan sebagai saksi yang berbicara dari dalam pergulatan yang sama. Mereka menguliti dirinya sendiri sebelum menguliti dunia dan isinya. Dan dalam proses itu, mereka menawarkan jalan perubahan yang pelan, namun dampaknya luar biasa.

Dalam iklim publik yang kian bising, barangkali kita perlu kembali mendengar mereka, para sastrawan. Bukan untuk mencari kenyamanan berpijak, tetapi untuk menyerap keberanian dalam bentuk yang berbeda: keberanian untuk berbicara benar tanpa menghina, untuk menunjukkan luka tanpa membenci, dan untuk mengubah dunia dengan kalimat yang tepat pada waktu yang tepat (pula).

Sejenak mari kita renungi sebuah kalimat bijak didalam buku "ta'limul muta'allim" menyatakan:

أوصيك في نظم الكلام بخمسة * إن كنت للموصي الشفيق مطيعا

لا تغفلن سبب الكلام ووقته * والكيف والكم المكان جميعا


"Sungguh janganlah lalai atau ceroboh tentang alasan, waktu, metode, kadar, dan tempat menyampaikan pembicaraan kepada orang lain"


Warung Kopi "Bang Ali"

4 Mei 2025

MJ

Komentar

Postingan Populer