Menumbuhkan Bakti: Sebuah Cerita dari Dalam Kelas
Hari itu, Haris pulang dengan kepala berat. Bukan karena materi pelajaran sejarah yang ia ajarkan terlalu sulit, melainkan karena satu murid yang terus-menerus menguji kesabarannya: Damar.
Anak kelas XI itu dikenal pintar, aktif, tajam dalam berpikir, tapi nyaris hampir tidak pernah bersikap sopan padanya. Damar kerap menyela saat Haris menjelaskan, menantang teman sekelas dalam debat yang tidak berujung, dan yang paling menyakitkan lagi bagi Haris: tatapan mata Dmar yang dingin dan sinis, seolah menyampaikan bahwa ia tak layak dihormati. Bukan hanya Haris yang merasa begitu — beberapa guru lain juga pernah mengeluh, sehingga dari beberapa guru tersebut, Damar mendapatkan label nakal, keras kepala, dan tidak tau tahu sopan santun.
Namun sore itu, saat Haris duduk sendirian di ruang guru, merenungi sebuah kutipan yang pernah ia dengar dalam sebuah worlshop tentang pendidikan karakter dan kembali terngiang:
"Berbakti kepada guru itu sulit. Karena itu, bantulah murid-murid kalian untuk berbakti. Barang siapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari murid-muridnya."
Kalimat itu menghantamnya — bukan dengan keras, tapi cukup untuk membuatnya berpikir ulang. Mungkinkah, selama ini justru dirinya yang tanpa sadar memperbesar sisi gelap dalam diri Damar?
Sebagai guru, Haris paham betul bahwa masa remaja adalah tahap pencarian identitas. Teori Erikson pun menegaskan: remaja sedang berjuang menentukan siapa diri mereka, dan sering kali itu tampak seperti perlawanan terhadap otoritas. Namun selama ini, Haris lebih sering menganggap sikap Damar sebagai bentuk pemberontakan personal, bukan sinyal permintaan pengakuan.
Keesokan harinya, Haris memutuskan untuk mencoba pendekatan yang berbeda. Saat Damar kembali menyela di tengah pelajaran, ia tak membalas dengan teguran. Setelah kelas usai, Haris menghampirinya.
“Damar,” kata Haris pelan, “kamu tertarik sama sejarah?”
Damar menatapnya curiga. “Emang kenapa, Pak?”
“Sering saya perhatikan kamu sering komentar sewaktu saya menjelaskan materi pelajaran. Saya pikir, mungkin kamu punya cara pandang yang menarik. Bagaimana kalau minggu depan kamu yang menjadi moderator diskusi kelas? Tentukan topik, dan pimpin diskusi.”
Damar menatap Haris lama, seolah berusaha menebak jebakan di balik tawaran itu. “Serius, Pak?”, tanya Damar.
Haris hanya mengangguk dan tersenyum.
Hari diskusi pun tiba. Haris memperhatikan dari sudut kelas — dan pemandangan yang ia saksikan membuatnya tercengang. Damar tampil percaya diri, memimpin diskusi dengan struktur rapi, menyampaikan argumen tajam dan tertib. Hingga di satu momen, terdengarlah kalimat itu:
“Seperti yang dijelaskan Pak Haris minggu lalu…”
Haris terdiam. Di balik kalimat sederhana itu, ia merasa dihargai. Bukan karena ia yang memaksa dihormati, tapi karena ia memberi ruang bagi Damar untuk merasa berarti.
Hubungan mereka berdua pun tidak lantas langsung berubah drastis. Damar tetap keras kepala, tetap kritis. Namun ada ketulusan baru di matanya. Haris mulai melihat: anak itu tidak sedang melawan, tapi sedang mencari jalannya sendiri untuk tumbuh.
Sejak itu, setiap kali menghadapi murid yang tampak “sulit”, Haris selalu bertanya dalam hati:
Apa yang sedang anak ini perjuangkan? Sudahkah aku cukup hadir — bukan hanya sebagai pengajar, tapi sebagai manusia yang siap mendampinginya tumbuh?
Dari Damar, Haris belajar satu hal: bakti seorang murid bukanlah hasil dari sebuah paksaan. Ia tumbuh pelan, tapi pasti saat kita menciptakan ruang untuknya bertumbuh. Dan kadang, sebelum menuntut bakti dari seorang murid... seorang guru perlu lebih dulu menunjukkan kasih, melakukan refleksi, dan introspeksi diri.
3 Mei 2025
MJ


Komentar