Mengajak Waras


Sastra bukan sekadar seni mengolah kata, tetapi juga media untuk menyampaikan kebenaran, mengkritik kekeliruan, dan membentuk kesadaran sosial. Didalam dunia sastra, sastrawan memegang peranan penting sebagai penyampai kritik yang elegan. Mereka bukan hanya mengutuk kezaliman atau kebodohan, tetapi melakukannya dengan cara yang tidak langsung, halus, bahkan penuh kasih. Keahlian mereka terletak pada kemampuan menyampaikan teguran tanpa menyakiti secara eksplisit, dan bahkan tidak jarang seorang sastrawan mencaci dirinya sendiri untuk memberikan sentilan kepada orang lain.

Indirect speech act sebuah bentuk komunikasi yang menyampaikan pesan tersirat agar terhindarkan dari konfrontasi langsung. Dalam konteks sastra, ini tercermin dalam metafora, alegori, dan satire. 

Semisal contoh Chairil Anwar, sastrawan angkatan '45 yang menulis puisi "Aku"—sebuah teriakan eksistensial yang terlihat seperti pembangkangan, tetapi sejatinya merupakan kritik terhadap ketidakjelasan arah bangsa. Ia menampakkan dirinya sebagai individu yang rapuh, berani, dan bahkan "binatang jalang," sebagai cara menghidupkan potret rakyat kecil yang terinjak. Teguran sosial dan politik di dalamnya sangat kuat, tetapi tidak mengarah kepada individu tertentu, sehingga tetap terasa puitis, bukan agresif.

Begitu pula dengan WS Rendra, sang Burung Merak, yang dikenal lewat puisi-puisi pamfletnya. Dalam "Sajak Pertemuan Mahasiswa", ia menyuarakan perlawanan terhadap rezim otoriter. Namun, ia tidak menyebut nama—hanya melukis keadaan. Ia mencaci sistem, tapi sering memposisikan dirinya dalam narasi, menjadikan kritik itu bagian dari dirinya, bukan sekadar lemparan ke luar. Teknik ini membuat pembaca tidak merasa diserang, tetapi diajak berefleksi.

Karya seni (termasuk sastra) juga berfungsi sebagai pelepasan emosi, baik bagi pencipta maupun penikmatnya. Teguran dalam sastra seringkali bukan berupa penghakiman, melainkan pembuka pintu kesadaran. Seorang sastrawan tahu bahwa manusia cenderung menolak kebenaran jika disampaikan secara frontal; karena itu, mereka membungkusnya dengan ironi, paradoks, dan simbolisme.

Dengan kata lain, sastrawan adalah seniman rasa yang memahami psikologi manusia. Mereka tidak menuding, tapi menggugah. Mereka tidak menghukum, tapi menyadarkan. Dan dalam proses itu, tidak jarang mereka seringkali mengorbankan dirinya sendiri sebagai tokoh yang lemah, gagal, atau hina dina agar pesan moral tersampaikan tanpa keangkuhan.

Maka benar adanya bahwa sastrawan mampu menegur tanpa menyakiti. Dengan bahasa yang terpilih dan emosi yang terukur, mereka menjadikan sastra sebagai ruang refleksi.


Salam Waras

1 Mei 2025

Komentar

Postingan Populer