DIKOTOMI ILMU: Percakapan antara Charis dan Mujtaba



Di suatu senja yang lengang, disebuah kedai kopi, dua sosok santri terlibat dalam sebuah perbincangan yang hangat, meski nadanya pelan. Dua santri itu adalah "Charis" dan "Mujtaba"

Charis memulai perbincangan sore itu, berbisik  lirih, namun tegas, seolah rangkaian huruf huruf kalimatnya telah lama mengendap di hatinya:

“Untuk apa  sih kita harus mempelajari sains dan teknologi? Kan tidak satu pun dari ilmu itu akan ditanyakan di alam kubur. Yang kita butuhkan sebagai bekal akhirat itu adalah ilmu tafsir, ilmu hadits, dan menghafal Alquran.”

Mujtaba menggelengkan kepalanya perlahan, matanya menatap jauh ke cakrawala seolah melihat realitas kehidupan yang enggan dibantah.

“Kau terlalu idealis, Charis” ujarnya, “Hari ini kita hidup di dunia nyata, dunia yang menuntut kita mengendarai motor, berkomunikasi lewat gadget, hidup dan bergerak dengan bantuan teknologi. Selain diwajibkan belajar dan menguasai keilmuan yang sanggup mengawal kita atas nama pribadi, kita juga dituntut untuk belajar dan menguasai ilmu yang mampu memberi kontribusi nyata pada peradaban, karena selain berstatus sebagai hamba, kita juga memiliki status lain, khalifah Tuhan yang dipasrahi untuk mengelola bumi ini.”

Percakapan kedua santri amatir itu seolah menggambarkan satu luka lama dalam dunia pemikiran: "dikotomi ilmu" . Seakan-akan ada dua jalur yang tidak akan pernah bisa disatukan dalam satu pelaminan, ilmu agama dan ilmu dunia. Lalu manusia dipaksa untuk memilih: menjadi orang suci atau menjadi orang pandai.


Namun benarkah demikian adanya?


Sebenarnya, ilmu tidak pernah terbagi secara hitam-putih. Yang membedakan bukan jenisnya, melainkan derajat kebutuhan (skala prioritas) dan orientasi kemanfaatannya. Ada ilmu yang wajib atas setiap individu, fardhu ‘ain, dan ada pula yang menjadi kewajiban kolektif, fardhu kifayah. Keduanya adalah bagian dari khazanah ilmu Tuhan, keduanya memiliki peranan penting dalam bangunan peradaban yang utuh.

Ilmu fardhu ‘ain adalah dasar, fondasi kehidupan seorang muslim: mengenal Tuhan (ilmu tauhid), memahami tata cara shalat, bersuci, berpuasa, menunaikan zakat bila mampu, menjauhi transaksi haram sebelum menjalaninya (ilmu fikih), dan mengatur spiritual kejiwaan menerima segala yang ditetapkan-NYA (ilmu tasawwuf). Itulah batas minimal agar seorang muslim tidak hidup dalam kebodohan yang berdosa.

Setelah pondasi itu kokoh, terbukalah ruang untuk memilih. Ingin menjadi dokter, insinyur, ahli pertanian, pakar teknologi, atau menghafal Alquran, menekuni tafsir dan hadits, semua itu bagian dari fardhu kifayah. Bila tidak ada satu pun muslim yang menekuninya, maka berdosalah seluruh komunitas.

Maka mengapa harus mencela pilihan orang lain, seolah satu lebih mulia dari yang lain? Padahal semua itu adalah bagian dari warisan ilmu Tuhan, yang diturunkan demi kehidupan yang lebih baik di dunia maupun akhirat.

Dan ironisnya, secerdas apa pun seseorang dalam ilmu-ilmu fardhu kifayah meskipun ia hafal ribuan hadits, menguasai teknologi canggih, atau menyelamatkan ribuan nyawa di ruang operasi, jika ia tak memahami syarat sah shalatnya sendiri, maka dalam pandangan syariat, ia tetap tergolong orang yang jahil.


Kesimpulannya sederhana, namun sering dilupakan: Tuntaskan dulu ilmu yang menjadi kewajiban pribadi kita. Setelah itu, silakan melangkah ke bidang mana pun yang ingin Anda tekuni. Dan berjalanlah di jalur itu dengan rendah hati tanpa merasa lebih mulia, tanpa merendahkan jalan yang diambil orang lain.

Sebab semua ilmu yang bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat, adalah bagian dari cahaya yang berasal dari sumber yang sama, Tuhan, Sang Pemilik Segala Ilmu.


MJ

9 Mei 2025

Komentar

Postingan Populer