Anak : Cerminan Orangtua, Amanah Berat yang Dibebankan untuk Dipikul oleh Guru
Dalam perjalanan kehidupan, anak adalah cermin. Ia memantulkan apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan dari lingkungannya, terutama dari rumah, dari orangtua yang menjadi panutan pertama dan utama yang kemudian dikelola oleh akal pikiran dan hati nuraninya.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
كل مولود يولد على الفطرة ، فإن أبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
الحديث أو كما قال
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini sering kita maknai secara teologis: bahwa setiap anak terlahir dalam kesucian, dalam fitrah untuk mentauhidkan Allah. Namun jika kita merenungkannya lebih dalam, makna sosiologis dari sabda Nabi ini tak kalah pentingnya: bahwa orangtua memegang kendali utama dalam membentuk nilai, perilaku, dan arah hidup seorang anak. Anak bukan sekadar makhluk kecil yang tumbuh dengan sendirinya; ia dibentuk, dipahat, dan diarahkan oleh tangan-tangan terdekatnya—yakni orangtuanya sendiri.
Al-Qur’an pun menguatkan hal ini dalam Surat Al-A’raf ayat 172:
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Benar, kami menjadi saksi.”
Sejak ruh ditiupkan, manusia sudah membawa pengakuan akan Tuhan. Tapi lingkunganlah yang akan menentukan, apakah pengakuan itu tetap terjaga atau tertutup oleh debu-debu dunia.
Rumah adalah sekolah pertama. Orangtua adalah guru paling awal yang dikenali anak. Dari merekalah anak belajar berbicara, berjalan, hingga memahami makna kejujuran, kesabaran, kerja keras, dan kasih sayang. Anak menyerap seperti spons: apa yang sering mereka lihat dan dengar, itulah yang akan mereka tiru dan ulangi.
Karena itu, orangtua bukan hanya bertugas memberi makan dan pakaian, tapi juga memberi arah. Mereka adalah penjaga benteng nilai. Mereka pula yang bertanggung jawab memilihkan lingkungan terbaik, termasuk lingkungan pendidikan formal: sekolah.
Guru, dalam konteks ini berperan sebagai perpanjangan tangan orangtua. Mereka menerima amanah besar: mendampingi anak-anak dengan segala keragaman latar belakang, nilai, dan kemampuan. Bayangkan, seorang guru dengan 38 murid, berarti ia harus memahami 38 karakter anak yang berbeda yang dilahirkan dan dibesarkan dari 76 kepala orangtua dengan harapan dan persepsi yang mungkin tidak hanya berbeda tapi juga saling bertolak belakang. Tugas sebagai guru ini bukan tugas ringan.
Namun ironinya, realitas berkata lain. Banyak oknum oknum yang entah disengaja ataupun tidak, merubah arah pendidikan menjadi sebuah industri penghasil rupiah. (Oknum) lembaga pendidikan berlomba-lomba mengiklankan diri dengan sangat menarik layaknya iklan ketjap nomor wahid, demi menjaring sebanyak mungkin murid, namun lengah dan lalai menciptakan lingkungan yang baik dan mengawal perkembangan anak didiknya sesuai bakat dan minat serta sesuai tuntutan dan tantangan zaman, lalai mendelegasikan tenaga pendidik terbaik yang akan mengawal perkembangan anak didik, seolah lupa bahwa setiap anak didik ataupun murid adalah amanah yang dititipkan dan nanti akan dipertanyakan tanggung jawabnya, bukan tumpukan investasi anak manusia yang dapat menambah gemuk laporan keuangan, dan menghaluskan citra. Sementara itu, dipersimpangan jalan, tidak sedikit pula orangtua yang setelah menyerahkan anaknya ke sekolah, justru seolah melepaskan tanggung jawab. Anak dianggap sepenuhnya urusan guru, lalai bahwa guru juga manusia yang memiliki keluarga dan harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal, guru adalah perpanjangan tangan dari kedua orangtua, guru juga makhluk sosial yang membutuhkan waktu jeda untuk mencari nafkah, bekerja, memikirkan harmoni keluarga dan lingkungannya. Pendidikan sejati adalah kolaborasi serta sinergitas antara guru dan walimurid, juga masyarakat.
Lebih menyedihkan lagi, mereka yang menjadi guru kini kerap kali berada di posisi yang lemah, dibawah tekanan pihak pihak tertentu, mulai tuntutan administrasi, waktu, materi, pun marwah diri. Di kota-kota besar, tidak jarang guru dimaki, diintervensi, bahkan dilaporkan ke polisi hanya disebabkan karena memberi teguran yang mendidik. Padahal, yang mereka lakukan adalah bagian dari wujud kasih sayang kepada anak didiknya.
Refleksi hari ini:
Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan satu sama lain. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Orangtua dan guru bukan dua kutub yang bertentangan, melainkan dua pilar yang saling menopang demi satu tujuan: masa depan anak-anak kita.
Mari kita sadari, bahwa mendidik anak bukan sekadar menyekolahkan. Itu adalah perjalanan memberikan proses, membentuk manusia denagn seutuhnya. Dan di perjalanan itu, kita semua orangtua, guru, masyarakat memegang peranan yang tidak mungkin tergantikan.
Karena sejatinya, anak-anak bukan hanya pewaris dunia. Anak anak adalah pencipta dan sekaligus penerus masa depan.
MJ
Kamis, 8 Mei 2025


Komentar