NASEHAT : Mengaharapkan kebaikan untuk orang lain
Hari itu, usai kelas berakhir, seorang anak menghampiriku. Dia seorang siswa, mitra belajarku. Pendiam, tidak menonjol. Tapi sorot matanya tajam, seakan membawa beban yang lama dia pendam dalam dalam.
“Boleh saya bicara, Pak?” katanya dengan ragu.
Aku mengangguk. Separuh hati. Separuh lagi ingin segera pulang, melanjutkan tugas, memikirkan program yang harus dibenahi, kebijakan yang harus dibuat, capaian yang harus diraih.
“Pak… Kadang-kadang, air jernih pun bisa keruh kalau pemilik wadahnya egois, enggan membersihkan wadahnya terlebih dahulu,” lanjutnya.
Aku mengernyitkan kedua alis mataku. “Maksudmu?”
Dia menatapku, kali ini tanpa ragu. “Kami disini ingin belajar, Pak. Tapi kadang kami hanya mendengar, tidak merasa didengarkan. Kami ingin tumbuh, tapi sering kali kami merasa tumbuh dalam bayangan Bapak, bukan di bawah bimbingan sesuai bakat dan minat kami.”
Ada jeda di sana. Sunyi. Dan sunyi itu seperti cermin—memantulkan wajahku sendiri yang selama ini terlalu sibuk menata orang lain, tapi lupa menata diri sendiri.
Dia melanjutkan, pelan, namun sangat jelas: “Kami bukan menolak dididik, Pak. Tapi kami ingin mengingatkan bahwa mungkin ada yang perlu dibenahi, disini. bukan hanya pada kami, tapi juga pada bagaimana cara Bapak mendidik dan membimbing kami.”
Aku tercekat.
Bukan karena kata-katanya terasa menyakitkan, tapi karena di balik keberaniannya, tersembunyi ketulusan sebuah nasehat. Nasehat yang datang bukan dari guru besar, bukan dari motivator dan konselor pendidikan, bukan dari seorang tokoh, bukan pula dari seseorang yang punya gelar atau pangkat. Melainkan dari seorang anak polos yang mengharapkan kebaikan. Untukku, untuk masa depan lembaga ini, dan untuk masa depan mereka.
Hari itu aku pulang, bukan sebagai orang yang sama. Di jalan, kalimatnya menggema: “Kadang-kadang, air jernih pun bisa keruh kalau pemilik wadahnya egois, enggan membersihkan wadahnya terlebih dahulu.”
Sedari itu, aku belajar mendengar. Bukan hanya mendengarkan. Aku belajar melihat dari bawah, bukan terus memandang dari atas. Karena ternyata, yang berada di tempat rendah pun bisa memancarkan cahaya.


Komentar