MASA DEPANKU TERSTANDARISASIKAN OLEH ALGORITMA MEDIA SOSIAL
Aku pernah (bahkan mungkin sampai hari ini masih sering, dan selalu) duduk lama menatap layar ponsel, memandangi deretan foto-foto sepasang anak manusia yang tampak “sempurna”. Keduanya tersenyum di tepi pantai, di pelaminan mewah, atau saat memegang tangan mungil bayi, putra pertama mereka. Sekilas, hidup mereka tampak sangat mudah. Indah. dan Terencana. Hingga kemudian, aku pun mulai bertanya: “Mengapa perjalanan hidupku tidak seindah kehidupan mereka?”
Harapan akan perjalanan masa depan pun pelan-pelan tidak lagi bersandar pada realitas, namun terstandarisasikan oleh algoritma dan estetika. Aku tidak sadar, aku sedang menyerap standar yang bukan hanya tidak realistis untukku—tapi juga amat sangat sungguh berbahaya. Bukan hanya untukku, tapi untuk siapa pun yang terlalu lama membiarkan media sosial men-DIKTE ekspektasi perjalanan hidupnya.
Media sosial (apapun itu) menciptakan cuplikan, highlight reel dari kehidupan orang lain, dan (kita)—termasuk aku—mulai membandingkannya dengan kehidupan sehari-hariku yang penuh tantangan, konflik, dan ketidaksempurnaan.
Dan yang paling menyakitkan adalah: aku mulai merasa bahwa tanpa “kisah cinta yang ideal”, tanpa “masa depan karier yang megah”, maka aku belum cukup berhasil menjalankan peranku sebagai manusia yang utuh.
Terlalu banyak terpapar oleh media sosial faktanya dapat mengganggu well-being secara menyeluruh, karena otakku terus-menerus membentuk persepsi yang tidak akurat terhadap apa yang “normal” dan “diharapkan”. Bahkan, sistem limbik diotakku—yang memproses emosi dan dorongan—terbentuk berdasarkan apa yang terus menerus aku lihat dan terus menerus aku dengar, sebagaimana yang sering sekali bahkan selalu aku diskusikan bersama anak anak, mitraku belajar, termasuk malam tadi, saat menemani mereka belajar bernalar, merenung, dan berlogika.
Lingkungan virtual, ternyata, sama kuatnya dengan lingkungan nyata dalam membentuk pola pikirku. Saat aku lebih sering melihat pasangan yang romantis tapi hanya tampil di story, dibanding mendengar nasihat bijak dari orangtua atau guru guruku yang penuh dengan makna, aku pun mulai kehilangan arah. Aku seringkali berpikir: Ternyata apa yang sering sekali aku lihat dan aku dengar secara berulang akan menjadi suara gemuruh riuh didalam kepalaku sendiri.
Lalu, bagaimana bisa aku berharap membangun masa depan, memilih pasangan hidup, atau menentukan arah karier dengan bijak, kalau pikiran ini terus digiring oleh algoritma, bukan dituntun, diarahkan, dan dibimbing oleh ilmu, pengetahuan, pengalaman nyata, atau nilai agama yang mengakar?
Di titik ini, kemudian aku memaksa menyadarkan diriku yang lelap: bahwa harapan harus dibangun dari pondasi yang kuat—bukan dari feed Instagram, bukan dari reels facebook ataupun tiktok, bukan pula dari video short youtube. Aku harus terus belajar, membangun keilmuan dan pengetahuan yang kokoh, menguatkan keyakinan keagamaan, dan peka terhadap realitas sosial. Karena dunia nyata tidak seperti reels yang hanya berdurasi 30 detik. Dunia nyata butuh kesabaran, pertimbangan, dan keyakinan yang tertancap kokoh.
Agama sebagai jalan hidup mengajarkan (kita) untuk melihat masa depan bukan sebagai produk instan, tapi sebagai hasil ikhtiar panjang, doa yang tulus, dan kesiapan mental serta spiritual yang kuat. Tanpa itu, kita akan terus merasa kekurangan, bahkan ketika sebenarnya kita sudah amat sangat lebih dari kata "cukup".
Aku menulis tulisan ini sebagai pengingat untuk diriku sendiri—dan untuk siapapun yang membacanya, jika dikemudian hari aku tersesat jalan, ada yang sudi menegur dan mengingatkan aku untuk membaca ulang tulisanku ini. Bahwa tidak apa-apa kalau saja hidupku tidak seperti yang tampil di Explore. Bahwa masadepan bukan hanya tentang secepat apa aku menemukan seseorang untuk menemani dan mendampingi perjalanan hidup, tapi seberapa siap aku membangun mentalitas bersama dalam realitas yang tidak selalu indah.
Masa depan bukan lahir dari likes dan views. Ia adalah hasil sinergi dan kolaborasi kuat antara nilai nilai, ilmu, pengetahuan, dan keyakinan yang terus kita pelihara dalam hati dan tindakan nyata.
MJ
30 April 2025.


Komentar