Mengapa Belajar Tidak Cukup Hanya di Kelas ? Inilah Rahasianya !
Setelah beberapa tahun (sejak tahun 2012) bergelut didunia pendidikan, saya semakin menyadari bahwa siswa/ siswi yang hanya mempelajari pelajaran pada jam-jam kegiatan wajib (seperti Jam Sekolah, Jam Bimbingan, dan Jam Belajar) akan menghadapi tantangan besar saat bersaing dengan mereka yang melanjutkan belajar di komplek asrama (bagi yang mondok), atau belajar kelompok dirumah (bagi yang mbajak). Sebab, pembelajaran di luar jam resmi bukan hanya sekadar tambahan waktu, melainkan tentang kemauan untuk menggali ilmu dengan lebih mendalam.
Siswa/ Siswi yang hanya belajar di waktu kegiatan wajib biasanya memiliki motivasi yang rendah. Kehadiran mereka lebih didorong oleh kewajiban daripada keinginan belajar yang sejati, sekadar memenuhi absen agar bisa naik tingkat. Pikiran mereka seringkali hanya fokus pada kapan pelajaran akan berakhir, bukan pada upaya memahami atau mendalami isi buku materi pelajaran. Akibatnya, proses belajar menjadi sekadar formalitas, terasa hambar dan jauh dari makna sesungguhnya. Berbeda dengan mereka yang (masih) melanjutkan belajar di kamar asrama pesantren dan atau dirumah; mereka benar-benar menyelami ilmu dengan dorongan kuat dari dalam diri.
Mereka yang pikirannya hanya tertuju pada kehadiran dan sekadar naik tingkat cenderung memiliki motivasi yang sangat lemah. Tak mengherankan jika mereka sulit mengalami perkembangan, sebab pikiran yang malas juga membuat otak kurang responsif dan ikut-ikutan malas bekerja. Lebih parah lagi, ada yang sampai menyalahkan otaknya sendiri, seolah-olah itu alasan utama ketidakmampuan mereka memahami pelajaran. Padahal, persoalan utamanya justru terletak pada motivasi yang kurang kuat untuk mendorong otak bekerja lebih keras. Bukan otaknya yang salah, melainkan kurangnya dorongan belajar yang menjadi penyebab.
Memperdalam Ilmu
Berbeda dengan mereka yang melanjutkan belajar di ruang ruang kamar asrama pesantren, atau belajar kelompok dirumah bersama teman sejawat. Di Pesantren A, misalnya, siswa/ siswi memiliki berbagai cara untuk memperdalam ilmu, dan mungkin hal serupa juga terjadi di pesantren lain. Ada metode sorogan, di mana siswa/ siswi junior membaca materi pelajaran di hadapan senior mereka sambil mendapatkan bimbingan langsung. Lalu ada halaqoh, di mana sekelompok siswa/ siswi duduk bersama mendiskusikan satu mata buku materi pelajaran untuk benar-benar memahami isinya secara mendalam. Bahkan, ada juga yang menuangkan pemahaman dan hasil diskusi mereka ke dalam tulisan. Jadi, waktu di luar jam kegiatan wajib justru menjadi saat-saat ketika ilmu benar-benar hidup dan berkembang di kalangan para siswa/ siswi
Menganalisis Pengetahuan
Kegiatan kelas dan jam wajib sebenarnya lebih berfungsi sebagai pondasi untuk menambah pengetahuan dasar, sedangkan asrama pesantren dan waktu belajar lanjut menjadi ruang untuk mengolah dan menganalisis pengetahuan itu secara mendalam. Jadi, bila keduanya dijalankan secara optimal dan konsisten, hasil yang dicapai tentu akan berbeda—pasti jauh lebih berhasil.
Ibaratnya begini, kelas dan kegiatan wajib itu seperti mengumpulkan bahan makanan—kita mendapatkan sayuran segar, daging, dan bumbu-bumbu. Namun, jika hanya mengumpulkan bahan tanpa tahu cara memasaknya, hasilnya tentu tidak akan menjadi hidangan yang enak. Nah, asrama dan belajar lanjut itu adalah proses memasaknya; di sana kita belajar teknik mengolah, mencampur bumbu dengan takaran yang pas, dan memasak hingga matang. Begitulah ilmu dapat benar-benar dicerna dan bermanfaat, melalui proses pengolahan yang serius dan penuh kesungguhan. Faktor lingkungan tempat tinggal (baik pesantren ataupun lingkungan rumah) dan teman sejawat sekitar juga sangat berpengaruh ddidalam membentuk semangat belajar.
.png)

Komentar