Memahami Ungkapan 'Adab di Atas Ilmu' secara Tepat dan Proporsional

Banyak dari kita yang (masih) keliru dalam menafsirkan ungkapan “Adab di atas ilmu”, hingga akhirnya mengabaikan pentingnya ilmu. Lalu, bagaimana pemahaman yang benar?

Hadlratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa adab merupakan hasil dari perpaduan tauhid, iman, dan syariat. Ketiganya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan dalam proses pembentukan adab. Dengan demikian, seseorang yang memiliki adab yang baik hampir dapat dipastikan memiliki pemahaman dan pelaksanaan yang benar terhadap syariat, keimanan, dan ketauhidan.

Hadlarutssyekh mengungkapkan:

وَقَالَ بَعْضُهُمْ : التَّوْحِيْدُ يُوْجِبُ الْإِيْمَانَ، فَمَنْ لَا إِيْمَانَ لَهُ فَلَا تَوْحِيْدَ لَهُ. وَالْإِيْمَانُ يُوْجِبُ الشَّرِيْعَةَ، فَمَنْ لَا شَرِيْعَةَ لَهُ فَلَا إِيْمَانَ لَهُ وَلَا تَوْحِيْدَ لَهُ. وَالشَّرِيْعَةُ تُوْجِبُ الْأَدَبَ، فَمَنْ لَا أَدَبَ لَهُ فَلَا شَرِيْعَةَ لَهُ وَلَا إِيْمَانَ لَهُ وَلَا تَوْحِيْدَ لَهُ

Artinya, "Dan sebagian ulama berkata: "Tauhid pasti (melahirkan) iman. Barang siapa yang tidak memiliki iman, maka dia tidak memiliki tauhid. Iman pasti (melahirkan) syariat. Maka barang siapa yang tidak memiliki syariat, maka dia tidak memiliki iman dan tauhid. Syariat pasti (melahirkan) adab. Barang siapa tidak memiliki adab, maka dia tidak memiliki syariat, iman, dan tauhid. (KH Muhammad Hasyim Asy'ari, Adabul 'Alim Wal Muta'allim, [Jakarta, Maktabah At-Turmusy Litturats: 2021], halaman 22).


Akhir-akhir ini, ungkapan "Al-Adab Fauqal Ilmi" atau "adab lebih utama daripada ilmu" sering menjadi bahan perbincangan, namun sayangnya banyak yang (masih) salah memahaminya.

Sebagian orang lebih cenderung meniru penampilan, cara berbicara, dan gaya hidup tokoh-tokoh alim yang mereka kagumi, tanpa memahami proses bagaimana tokoh tersebut menjadi sosok yang berilmu dan berakhlak mulia.

Fenomena ini menyebabkan mereka lebih suka menghadiri majelis acara-acara besar, meskipun lokasinya jauh dari rumah. Padahal, ada majelis ilmu di sekitar tempat tinggal mereka yang diasuh oleh kiai atau ustadz setempat. Bahkan, ada sebagian yang sampai mengabaikan orang tua mereka sendiri karena terlalu terfokus pada majelis-majelis tersebut.

Jika kesalahpahaman ini terus berlanjut, masyarakat akan semakin menjauh dari ilmu. Padahal, ilmu adalah pilar yang mendukung keberlangsungan Islam dengan segala manifestasinya, dan ibadah apapun tidak akan sah jika dilakukan tanpa ilmu.


Imam Al-Zarnuji dalam kitab Ta’liim Almuta’allim menegaskan:

... فَإِنَّ بَقَاءَ الْإِسْلَامِ بِالْعِلْمِ وَلَا يَصِحُّ الزُّهْدُ وَالتَّقْوَى مَعَ الْجَهْلِ

Artinya, “Sungguh kelestarian Islam itu terjadi dengan ilmu. Zuhud dan takwa tidak sah disertai kebodohan.” (Burhanul Islam Az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, [Beirut, Al-Maktabah Al-Islami : 1981], halaman 66).


Imam Al-Ghazali, dengan mengutip hadis Nabi Muhammad saw, menyatakan bahwa hal paling penting sebagai bekal untuk beribadah kepada Allah swt adalah pemahaman agama yang mendalam. Bahkan, pemahaman ini disebut sebagai tiang agama. Beliau menegaskan hal ini dalam kitabnya, Ihya’ Ulumiddin

قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: مَا عُبِدَ اللهُ تَعَالَى بِشَيْءٍ أَفْضَلَ مِنْ فِقْهٍ فِى الدِّيْنِ ... وَلِكُلِّ شَيْءٍ عِمَادٌ وَعِمَادُ هَذَا الدِّيْنِ الْفِقْهُ

Artinya, “Nabi Muhammad saw bersabda: “Allah swt tidak disembah dengan sesuatu yang lebih utama dariapda pemahaman terhadap agama yang benar, ... Setiap sesuatu ada tiangnya dan tiang agama ini adalah pemahaman agama yang benar.” (HR At-Thabarani). (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin, [Jeddah, Darul Minhaj lin Nasyr Wat Tauzi’: 2011], juz I, halaman 26).


Sangat logis bahwa seorang Muslim yang berilmu pada akhirnya akan memahami penyakit-penyakit hati, karena penyakit-penyakit tersebut sering kali merusak pahala dari ibadah.

Mengacu pada pendapat Al-Ghazali yang dicantumkan dalam catatan kaki kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari, fiqih atau pemahaman dalam agama mencakup pengetahuan tentang jalan menuju akhirat, pemahaman tentang detail-detail kerusakan jiwa, serta hal-hal yang dapat merusak amal ibadah.

وَالْمُرَادُ بِالْفِقْهِ هُنَا عِلْمُ طَرِيْقِ الْآخِرَةِ وَمَعْرِفَةِ دَقَائِقِ آفَاتِ النَّفْسِ وَمُفْسِدَاتِ الْأَعْمَالِ

Artinya, “Dan yang dimaksud dengan fiqih di sini adalah ilmu untuk mengetahui jalan akhirat, mengetahui detil-detil bahaya jiwa dan perusak-perusak amal ...” (Aadaab al-‘Aaliim wa Almuta’allim, 28).


Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa memiliki adab tanpa disertai ilmu dapat membuat Islam menjadi rapuh. Seorang Muslim yang tidak berilmu akan lebih rentan terjebak dalam fanatisme berlebihan. Fanatisme seperti ini bisa merusak tatanan masyarakat yang telah ada. Wallahu a’lam bis shawab.


Komentar

Postingan Populer