SECUPLIK BIOGRAFI KH. DIMYATHI ADNAN

 _*Silsilah Nasab KH. Muhammad Dimyati Adnan Bersambung kepada Mbah Sunan Bejagung Tuban*_

KH. Muhammad Dimyathi Adnan bin KH. Abu Dzarrin bin H. Umar bin Adiman bin Sanding bin Lanang bin Wadon binti Mbah Wali Noyorono (Kiai Bedol Jati Rembang) bin Adipati Anom Pamotan bin Aryo Jayeng Pamotan bin Berjoguno Trenggulunan Berabuhan bin Syeikh Mahmudin Asy'ari (Kanjeng Sunan Bejagung Tuban).

_*Silsilah Nasab KH. Muhammad Dimyathi Adnan Bersambung kepada Mbah Sambu Lasem dan Joko Tingkir*_

KH. Muhammad Dimyathi Adnan bin KH. Abu Dzarrin bin H. Umar bin Adiman bin Sanding bin Lanang bin Wadon binti Nyai Khòdijah (istri Mbah Kiai Bedol Jati) binti Mbah Neng binti Nyai Fathimah binti Mbah Kiai Abdul Alim Tuyuhan bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Sambu Lasem) bin Pangeran Benowo bin Sultan Hadi Wijoyo (Joko Tingkir).

.

KH Dimyati bin Abu Dzarrin lahir ahad legi 28 Rojab 1348 H atau 1929 M

Lahir dr seorang ayah bernama Adnan atau KH Abu Dzarrin bin Umar atau dan ibu Nyai Hajah Asmanah binti H Ridwan.

Beliau adalah putra ke 2 dari 12 bersaudara,yaitu

1.Nafisah

2.Muhammad Dimyati

3.Ahmad Munir

4.Mutqinah

5.Muhammad Ma'mun

6.Muhammad Makin

7.muhammad Kharis

8.Naqiyah

9.Ahmad Kamil

10.Matinah

11. Lu'luatul Fuad

12.Barrotut Taqiyah

Dari 12 putra putri Mbah Abu Dzarrin,yang hidup sampai melahirkan keturunan ada 7, yaitu : Nafisah, Dimyati, Ahmad Munir, Ma'mun, Muhammad Kharis, Lu'luatul Fuad dan Barrotut Taqiyah..yang 4 wafat ketika masih kecil dan satu wafat dalam keadaan mengandung putra pertama nya..

KH Dimyati mulai meneruskan kepemimpinan PP Abu Dzarrin selepas wafatnya Mbah KH. Abu Dzarrin di tahun 1959, berdua dg KH. Ahmad Munir. Sedang KH Ma'mun dan KH Kharis masih di pondok (mondok)

Saat itu pondok pesantren belum di beri nama Abu Dzarrin..orang orang yang datang menyebutnya pondok kendal karena waktu itu memang satu2nya pondok di kendal ya hanya pondok nya Mbah Abu Dzarrin

Saat pertama beliau memimpin pondok pesantren Abu Dzarrin,asrama santri masih berupa gota'an-gota'an dr kayu yang terletak menempel sebelah selatan nya masjid assalafiyah sumber tlaseh. Dan baru ada santri putra.belum ada santri putri.

Baru ketika beliau pindah rumah sendiri di utara nya masjid,maka santri santri di boyong ke utara dan dibikin lah kamar kamar untuk santri yang lebih memadai.dan sekaligus menerima santri putri di tahun 1961 dan pondok pesantren nya resmi memakai nama PONDOK PESANTREN ABU DZARRIN.Yang sekarang kepemimpinan pondok putra di pegang KH Munaamul khoir Dimyati sedang pondok putri di bawah kepemimpinan KH Abdul Kholiq Munir

Selain meneruskan kepemimpinan pondok pesantren Abu Dzarrin,beliau juga perintis dan mendirikan pendidikan formal yang di beri nama sama dengan pondok nya yaitu Madrasah Abu Dzarrin yg di singkat MAD.

Perjuangan beliau dalam merintis dan mendirikan Madrasah/pendidikan formal cukup berliku.

Pertama beliau bersama adiknya yaitu KH Ahmad Munir, mendirikan cikal bakal pendidikan formal dg mendirikan Madrasah Muallimin dengan nama MISRIU. Lalu berganti menjadi ALWASILAH karena gabung dg Arrosyid.. kemudian saat terjadi perpecahan,baru memakai nama ABU DARRIN Tafa'ulan dg Mbah Abu Dzarrin dan biar serasi dengan nama pondok pesantren nya.yang sekarang berkembang pesat dan menjadi sekolah swasta keagamaan terbesar ke 2 di Bojonegoro.

Adapun legalitas Madrasah Ibtidaiyah,Tsanawiyah dan Aliyah Abu Dzarrin di akui oleh negara secara resmi tahun 1974.

Kiprah beliau bukan cuma di pesantren dan mendirikan Madrasah sebagai wadah pendidikan formalnya tapi juga aktif di masyarakat sebagai Dai atau Muballigh,aktif di MUI, di NU sebagai Rois Syuriah tahun1984 -1989(mohon dikoreksi jika salah).

Setahun sebelum wafat beliau mendirikan Madrasah Tahasshushiyah untuk melestarikan tradisi keilmuan pesantren yg saat itu beliau rasa sangat kurang.. berangkat dari keprihatinan beliau,maka beliau mendirikan Madrasah yang khusus fokus mempelajari ilmu alat dan perangkatnya untuk memahami kitab kuning yg sekarang Madrasah itu di namakan Madrasah Takhosshushiyah Addimyatiyah yg di singkat MTHA.

Madrasah Tahassushiyah Addimyatiyah atau MTHA adalah warisan terakhir beliau yg sampai hari ini masih terus terjaga dan dirawat oleh putra,putra mantu dan cucu2 beliau..

Kiprah beliau selain di NU jg di Thoriqoh.

Kurang lebih tahun 1980-an beliau ikut baiat Thoriqoh Qodiriyah Annaqsyabandiyah dengan mursyid KH Zamrodji dr Pare Kediri.akan tetapi karena kesibukan dan banyaknya aktifitas serta banyaknya Thoriqoh yg beliau ikuti,maka beliau mendelegasikan kepada adik beliau KH Ahmad Munir untuk mengenalkan dan menyebarkan Thoriqoh ini di daerah Bojonegoro.Dan berkat perjuangan KH Ahmad Munir ini,alhamdulillah Thiriqoh Qodiriyah Wannaqsyabandiyah bisa tersebar luas di Bojonegoro dan sekitar nya sampai hari ini..

Menurut Ning Nyai Umi Romadhon Annahariyah (Ning Rom) Sosok beliau di mata anak2 nya..khususnya dimata Ning Rom..adalah.

▶️ Mbah Dim Kuat memegang hukum Alloh dan cenderung lebih memilih hukum yang lebih berat dlm disiplin ilmu fiqh.

Contoh: dlm hal perempuan istihadzoh,beliau mengambil hukum wajib mandi di setiap sholat fardhu.

Contoh lain: bagi seorang janda yg ditinggal meninggal mati suami nya,selama punya anak yg menafkahi nya maka tidak termasuk golongan fakir atau miskin

▶️ Mbah Dim adalah seorang anak yang luar biasa patuh kepada ibu nya melebihi apapun yang ada di dunia

Contoh yg pernah saya (Ning Rom) lihat ketika beliau sedang sholat dan di teruskan wiridan di musholla pondok..beliau pernah dawuh,siapapun yg datang ketika saya sedang wiridan di musholla tdk akan saya temui dan beliau istiqomah seperti itu selama bertahun2, tidak ada satupun orang yg bisa dan berani mengganggu kebiasaan beliau, tapi satu ketika ibunya datang, maka dengan tergesa2 beliau turun dr pengimaman musholla..

Contoh lain: Beliau sangat marah kalo putra-putranya, santri2 nya tidak jamaah, tapi ditengah2 marah nya, ketika ibu beliau datang, kemarahan beliau langsung reda seketika, dan tdk pernah lepas senyum jika di depan sang ibu, dan tidak pernah sekalipun bicara kasar kpd ibunya seumur hidup nya, hal itu di akui seluruh saudara2 beliau.

Bahkan ketika beliau melaksanakan pernikahan ke3, ibunya mengetahui hal itu dan marah, meminta beliau menceraikan, saat itu jg langsung diceraikan.

▶️Mbah Dim adalah sosok yg independen, kuat kepribadian nya, tidak bisa di dekte oleh siapapun dan oleh apapun. Terlihat dr cara beliau berpakaian..beliau mempunyai fashion style yg tidak biasa..juga alas kaki (gamparan) yg tidak lazim.dan semua itu beliau pertahankan sampai akhir hayat.

Dlm berpakaian,beliau punya beberapa style..tergantung event nya.

Jika ke musholla untuk sholat biasanya pake jubah dan sorban lengkap di kepala nya.didlm nya memakai kaos oblong dan celana selutut atau celana tetima kasih bumi.bersandal gamparan.

dan warna yg dipilih lebih sering putih,krem,biru muda dan hijau muda.

Jika santai di rumah atau sedang menerima tamu,biasa memakai baju potongan jasket plus sarung dan peci putih.sandal gamparan.

Kalau sedang berkebun atau menjala ikan,pakai kaos oblong,celana trima kasih bumi dan peci putih.bersandal lily

Yg paling aneh dan nyentrik itu busana ketika ada acara resmi di rumah atau sedang menghadiri acara resmi,biasanya memaksi jubah panjang,di luarnya pakai jas pakai,lilitan sorban di kepala,berkaos kaki dan sepatu fantofel. Itu gaya berpakaian belum pernah saya temui selain beliau

Setelah beliau wafat baru kami (putra putri mbah Dim) tau,baju beliau tdk lebih dr 10 potong.

*AKHLAK DAN KAROMAH KH. MUHAMMAD DIMYATHI ADNAN*

Mbah Dim adalah seorang yang birrul walidain. Beliau sangat mengutamakan berbakti kepada kedua orangtua. Alkisah, suatu ketika ada santri yang tidak ikut ngaji dan konangan Mbah Dim. Santri ini takut luar biasa, kuatir dihukum atau bahkan dipukul. Namun saat ditanya, kenapa gak ngaji? Si santri jawab, saya diutus Mbah Nyai (ibunda Mbah Dim). Mendengar nama ibunya disebut, beliau langsung diam tak lagi meneruskan interogasi. Padahal biasanya pertanyaan beliau panjang dan njelimet.

Mbah Dim adalah seorang yang sangat mengutamakan sholat berjamaah, baik untuk pribadinya, keluarga dan santri-santrinya. Jika ada santri yang tidak ikut sholat berjamaah maka dita'zir (dihukum) bahkan beliau tak segan-segan menyabet santri tersebut.

Keistiqomahan dalam sholat berjamaah ini merupakan atsar dari pendidikan ayahnya, KH. Abu Dzarrin. Saking pentingnya sholat berjamaah, hingga Mbah KH. Abu Dzarrin pernah dawuh: "Di antara tanda-tanda ilmu yang bermanfaat adalah sholat berjamaah, terutama jamaah sholat Subuh."

Tentang karomah KH. Muhammad Dimyathi Adnan, menurut penuturan Pak Muhsinin (Alumni MTHA), Beliau Pak Sinin pernah mendengar cerita dari paman Beliau, KH. Anwar Bendo yang merupakan santri dari Mbah Dim. Selain santri Mbah Dim, KH. Anwar Bendo juga sempat ngaji kepada Mbah KH. Abu Dzarrin.

Kurang lebih dawuh KH. Anwar begini: "Mbah Kiai Dimyathi itu kalau hujan tidak kehujanan. Saya pernah melihat secara langsung saat beliau berangkat ngaji. Dalam perjalanan naik motor, turunlah hujan deras. Namun tak setetes air hujan pun yang membasahi tubuh dan baju beliau. Begitupun santri yang nderekno beliau,, ikut tidak kehujanan."

Masih melanjutkan cerita Pak Sinin, Ada juga kisah dari Mbah Haji Mutawali bin Kiai Bakri yang merupakan misanan Mbah Dim. Pada suatu ketika Bu Nyai Dimyathi sambat gak punya beras untuk dimasak di hari itu. Mendengar keluhan si istri, Mbah Dim bilang, "Sabar dulu, insya Allah sebentar lagi akan ada orang yang mengirim beras."

Pagi itu juga Mbah Dim masuk mushola yang berada tak jauh dari ndalem untuk menunaikan sholat dzuha dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Belum sempat turun dari mushola, tiba-tiba ada mobil dari selatan melaju kencang di jalan raya depan Pondok Pesantren Abu Dzarrin. Mobil tersebut ngerem ngaget hingga terdengar suara yang cukup keras dari pondok.

Si sopir turun dari mobil dan bertanya kepada seseorang akan keberadaan rumah kiai pengasuh Pondok Pesantren Abu Dzarrin. Setiba di depan ndalem Mbah Dim, sopir tadi menurunkan satu karung beras. Kemudian ia pamit begitu saja. Siapakah yang mengantarkan beras tadi? Wallahu a'lam.

WAFAT

Beliau wafat akhir jumat,11 jumadil akhir 1411 H bertepatan dengan 28 Desember 1990 H di Rumah karena sakit paru paru kronis.

Dengan meninggalkan 2 org istri dan 13 putra putri yg masih ada dari jumlah keseluruhan 17 putra putrinya

رَبِّ فَانْفَعْـــــــــــنَا بِبَرْكَتِهِمْ وَاهْدِنَا الْحُسْنٰى بِحُرْمَــــــــــــتِهِمْ وَاَمِتْنَافِى طَرِيْقَتِهِـــــــــــــــمْ وَمُعَافَــــــــــــــــــــةٍ مِنَ الْفِتَـــــــــــــــــنِ

************

Ditulis ulang dari postingan Pak Sinin dan Komentar Ning Rom di Facebook (dengan sedikit penataan ulang kalimatnya)

SUMBER

Mohon koreksi dan masukan dari para pembaca sekalian, terutama putra-putri Almarhum dan santri Kendal yang menangi Mbah KH. Dimyathi Adnan demi perbaikan tulisan ini. Matursuwun.



Komentar

Postingan Populer