BUKAN KATA-KATA : "I Love You". “Aku Mencintaimu”
(Mengulang lagi serita anekdot fiktif klasik dan sedikit tambahan)
Dulu, 17 tahun lalu, ketika masih menjadi siswa, aku tertarik pada seorang perempuan, seorang siswa, SMA Negeri 2 Bojonegoro. Menurutku dia cantik, baik hati dan cerdas. Kami pertama bertemu disalah satu event antar sekolah yang diadakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Aku (mengaku) sebagai siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 Bojonegoro . Tiap malam minggu aku menemui dia di kost.nya. Ngontel ndelik ndelik berangkat dari asramaku. Sekedar untuk ngobrol ngalor-ngidul dan bercandaria. “Wakuncar”, wajib kunjung pacar, istilah teman-temanku. Enam bulan berlalu. Persahabatan dan kedekatan itu tiba-tiba menyelinapkan “rasa damai” dan "indah" di jantungku. Aku kira dia juga punya “rasa” itu. Suatu saat, aku memberanikan diri dan tak tahan untuk menyatakan kepadanya : “Aku mencintaimu”.
Aku melihat dia diam saja, tanpa ekspresi. Wajahnya datar saja. Lalu dia bilang : “Aku pulang ya?”. Tanpa kata-kata yang lain. Aku kecewa berat. Aku menyimpulkan : "Dia menolak cintaku. Untung aku tak semaput".
Setahun kemudian ingatanku kepadanya berangsur hilang. Tak lagi merindukan dia. Lima tahun sesudah itu, aku bertemu seorang perempuan lagi, kali ini mahasiswi. Dia aktifis kampus. Cantik, cerdas, lembut dan baik hati. Kami sering bertemu dalam diskusi-diskusi kampus atau di tempat lain. Mataku sering bertemu matanya. Pikiranku sering sejalan dengan pikirannya.
Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan kami lalui bersama dalam debat intelektual yang cerdas, canda ria yang menawan dan hati yang berbunga-bunga. Aku kembali punya “rasa damai” ditambah “rasa indah”.
Singkat cerita. Suatu hari yang mendebarkan terjadi lagi, seperti tahun lalu. Aku kembali memberanikan diri mengatakan kepadanya: “I love you", Aku mencintaimu”. Suara kata-kata itu hampir tak terdengar. Lirih, bergetar, dan seperti tersekat. Mataku menyampaikan isyarat. Aku melihat dia tertunduk. Seperti ada anak panah menancap di pusat jantungnya. Dia seperti hampir lunglai. Tak lama dia bangkit dan menatapku sambil tersenyum. Wajahnya berpendar cahaya. Aku menahan teriak girang. Lalu kami berpisah. Aku melambai sambil senyum sambil jari-jari ku aku taroh di mulut dan aku kecup-kecup.Dia membalas lambaianku juga dengan senyum sejuta makna.
Aku kembali ke asrama, lalu merebahkan tubuh sambil senyum-senyum sendiri. Meski mataku memandang ke langit-langit kamar, tapi aku tak melihat langit-langit itu. Aku termenung dan berefleksi: “Dua kalimat yang sama : “Aku mencintaimu”, direspon dengan reaksi tubuh yang berbeda. Apakah sesuatu yang membuatnya berbeda?. “Ketulusan” kah?. Apakah ia?. Ternyata bukan kata-kata yang membuat hatinya bergetar-getar. Bukan huruf-huruf yang membikin tubuhnya hampir lunglai, tak berdaya. Dan aku masih tak paham sesuatu itu, hingga hari ini.
Lalu suatu hari aku ingat Maulana Jalal al-Din Rumi mengatakan dalam kitabnya berjudul "Fihi ma Fihi", kira-kira begini :
الكلام ذريعة وان الذی يجذب انسان الی انسان اخر هو ذلك العنصر من التناسب. وليس الكلام.
"Kata-kata hanyalah pengantar, sarana. Aspek simpatilah yang dapat menarik hati, seseorang kepada orang lain, bukan kata-kata".
Ya. Ternyata bukan kata-kata dan bukan pula huruf-huruf. Aspek empatilah dan pertemuan dua hatikah yang mengguncangkan dan menggelisahkan dada seseorang.
Pacul, 10 Maret 20
14
Repost 10.03.2025
MJ


Komentar